Terkait Penembakan Pesawat Tempur Rusia Oleh Jet Tempur Turki, Pertumbuhan Ekonomi Turki Terancam Merosot

0
178

JAKARTA – Masyarakat dunia saat ini dihebohkan dengan insiden ditembak jatuhnya pesawat tempur Rusia oleh militer Turki. Satu unit jet Sukhoi SU-24 ditembak jatuh di Provinsi Latakia, perbatasan Suriah, Selasa (24/11).

Menurut keterangan Kementerian Pertahanan Rusia, yang menembak jatuh pesawat tempur itu adalah militer Turki. Diduga kuat, ada miskoordinasi antara kedua negara, seperti dilansir Stasiun Televisi Russian Times.

Rusia beberapa kali dianggap melanggar wilayah udara Turki ketika menyerang basis pemberontak maupun ISIS di Suriah. Pemerintah Negeri Beruang Merah menepis kemungkinan pihaknya yang bersalah sehingga ditembak jatuh.

“Jet tempur kami terbang di ketinggian 6.000 meter untuk melakukan pengintaian dan selalu terbang di wilayah udara Suriah,” seperti dikutip dari keterangan tertulis Kemenhan Rusia.

Juru bicara militer Turki mengatakan pihaknya memang menjatuhkan pesawat tersebut. Alasannya Sukhoi itu diperingatkan hingga 10 kali telah melanggar wilayah udara mereka. Yang belum terkonfirmasi adalah, dengan apa Su-24 itu ditembak jatuh, apakah karena rudal F-16 Turki atau rudal antipesawat udara dari darat.

Memanasnya kondisi kedua negara berdampak pada perekonomian global. Salah satunya harga minyak dunia.

Harga minyak global melonjak setelah Turki menembak jatuh sebuah pesawat tempur Rusia di perbatasan Suriah. Hal ini memicu kekhawatiran tentang meningkatnya ketegangan di Timur Tengah yang kaya minyak.

Patokan AS, minyak mentah light sweet atau West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Januari, naik USD 1,12 menjadi ditutup pada USD 42,87 per barel di New York Mercantile Exchange.

Patokan Eropa, minyak mentah Brent untuk pengiriman Januari, naik USD 1,29 menjadi USD 46,12 per barel di perdagangan London.

Militer Turki mengatakan pesawat itu ditembak jatuh oleh dua jet tempur F-16 Turki setelah melanggar wilayah udara Turki 10 kali dalam jangka waktu lima menit.

Namun demikian, Rusia bersikeras bahwa pesawat tempurnya itu masih berada di dalam wilayah udara Suriah, meningkatkan kemungkinan lonjakan besar dalam ketegangan atas Suriah.

“Kami benar-benar mendapatkan dorongan di sini dari ketegangan geopolitik, karena kekhawatiran telah dipicu oleh berita bahwa sebuah pesawat Rusia telah ditembak jatuh, dan ketakutan bahwa eskalasi dapat menyebabkan beberapa pengaruh buruk di Timur Tengah dan akhirnya mempengaruhi pasokan minyak,” kata Matt Smith, analis minyak pada ClipperData seperti ditulis Antara, Rabu (25/11).

Namun, para analis pasar mencatat bahwa Suriah hampir tidak menghasilkan minyak dan itu kesempatan baik bahwa peningkatan ketegangan atas insiden tersebut bisa berkurang tak lama kemudian. Akibatnya, beberapa melihat lompatan harga minyak pada Selasa sebagai bukti aksi buru harga murah.

Tak hanya itu, kejadian ini juga berpengaruh buruk pada perekonomian Turki maupun Rusia.

Nilai tukar mata uang dan pasar saham Turki anjlok setelah mereka menembak jatuh sebuah pesawat tempur Rusia di perbatasan Suriah. Turki yang merupakan anggota NATO ini mengatakan pesawat itu ditembak jatuh oleh dua jet tempur F-16 setelah melanggar wilayah udara Turki 10 kali dalam jangka waktu lima menit.

Nilai tukar Lira (mata uang Turki) anjlok hampir 1 persen terhadap dolar Amerika (USD). Mata uang ini telah jatuh sekitar 19 persen sepanjang tahun ini, dan menjadikannya sebagai mata uang berkinerja terburuk di negara berkembang. Selain itu, saham di Borsa Istanbul juga merosot 1,4 persen.

Tak hanya itu, nilai tukar Rubel Rusia juga anjlok tipis 0,2 persen terhadap USD. “Insiden ini secara signifikan membuat pasar bereaksi, Lira dan Rubel serta pasar saham kedua negara turun,” ucap ekonom Capital Economics, Liza Ermolenko seperti dikutip dari CNN, Rabu (25/11).

Kondisi ekonomi diperkirakan akan menjadi lebih buruk jika situasi di Timur Tengah terus bergejolak. “Jelas ada potensi untuk reaksi lebih besar jika ketegangan politik anara kedua negara meningkat tajam.”

Pertumbuhan ekonomi Turki telah merosot dalam beberapa tahun terakhir. International Monetary FUnd (IMF) memperkirakan ekonomi Turki hanya akan tumbuh 3,1 persen tahun ini dan 3,6 persen di 2016. Angka ini jauh di bawah angka pertumbuhan 2010 dan 2011 lalu yang mencapai 9 persen.

Tak hanya itu, rencana bank sentral Amerika atau The Fed menaikkan suku bunga juga mengancam ekonomi Turki. Barang yang diimpor Turki akan menjadi lebih mahal karena kuatnya USD. Kemudian, utang luar negeri jangka pendek Turki sebesar USD 125 miliar juga terancam akan membengkak.

Turki semakin menderita penurunan ekonomi karena ketidakstabilan politik terus meningkat.

Meningkatnya ancaman ISIS di Suriah menyiksa perekonomian Turki. Setelah lonjakan pertumbuhan ekonomi di awal 2000-an, kini Turki menghadapi inflasi yang tinggi, pertumbuhan melambat serta meningkatnya pengeluaran fiskal. Pengangguran di Turki juga meningkat dan terjadi penurunan daya saing ekspor dalam beberapa bulan terakhir.

Dilansir dari International Business Times, Produk Domestik Bruto (PDB) Turki diperkirakan hanya tumbuh hanya 3 persen pada 2015 dan 2016. Bahkan, Menteri Keuangan Turki yang baru diangkat kembali, Memet Simsek pernah mengatakan bahwa masa depan keuangan negaranya berisiko dari ketidakstabilan politik.

Perdagangan antara Turki dengan Rusia berjalan mulus dalam beberapa tahun terakhir. Pemerintah Rusia mengatakan, perdagangan dengan Turki melonjak lebih dari USD 32,7 miliar pada 2013 silam.

Keretakan hubungan kedua negara kini mulai terlihat setelah Turki membawa turun jet perang Rusia. Presiden Rusia, Vladimir Putin menyebut insiden itu sebagai ‘tusukan dari belakang’. Anggota parlemen Rusia, Nikolay Levichev meminta badan penerbangan setempat untuk mempertimbangkan larangan terbang ke Turki.

Salah satu perusahaan perjalanan terbesar Rusia, Natali Tours juga mengumumkan akan menghentikan paket liburan ke Turki tanpa menyebutkan kapan mereka akan merealisasikannya.

sumber : merdeka.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here