Rumah Bolon Warisan Tidak Ternilai Milik Generasi, JR : Mari Jaga dan Lestarikan

Kapolda Sumut beserta Bupati Simalungun saat mengunjungi Rumah Bolon Purba beberapa waktu yang lalu.

SIMALUNGUN, SUMUTMEDIA.net  – Rumah adat peninggalan etnis Simalungun, atau yang kerap disebut sebagai “Rumah Bolon” adalah aset tidak ternilai yang telah diwariskan pendahulu kepada generasi. Generasi tersebut bukan hanya terkhusus bagi etnis Simalungun, melainkan juga bagi seluruh generasi yang ada. Ini dikarenakan, keberadaan warisan itu dapat dijadikan pembelajaran dan perenungan yang ada di dalamnya.

JR Saragih, Bupati Simalungun, kemarin ketika melakukan kunjungan dan berziarah ke lokasi Rumah Bolon, mengatakan kelestarian dari Rumah Bolon ini sangatlah penting dijaga. Selain itu Pemerintah memiliki peran guna memperkenalkan seperti apa sebenarnya Rumah Bolon tersebut.

“Banyak pemahaman yang terkandung dalam Rumah Bolon. Rumah Bolon bukanlah rumah biasa biasa saja. Ada beragai pemahaman yang terkandung di setiap bentuk dari Rumah Bolon itu sendiri. Salah satunya, seperti gambar gambar (ornamen) atau uhir (gorga)  yang diletakkan pada lokasi lokasi tertentu. Contohnya, pada tiang tiang Galang, diujungnya terdapat tanda yang melambangkan penjuru mata angin,” ujarnya.

Dirinya juga meminta kepada Dinas Pariwisata Kabupaten Simalungun untuk dapat membenahi, menjaga dan melakukan perawatan dengan sebaik mungkin. “Ini warisan yang tidak ternilai, begitu banyak pembelajaran yang ada bisa dipetik dari keberadaannya. Rumah Bolon adalah tempat kehidupan dan kebersamaan, keluarga serta yang lainnya.  Ini peninggalan tidak ternilai,” ucapnya.

Jordi Purba, beberapa waktu lalu saat berbincang dengan wartawan via saluran media sosial, ketua Forcabups (Forum Cagar Budaya dan Pariwisata Simalungun)  itu menuturkan ternyata dari 7 kerajaan yang ada di Simalungun, saat ini hanya 1 kerajaan saja yang masih memiliki Rumah Bolon, sedangkan selebihnya sudah rahib.

“Hanya tinggal Rumah Bolon Purba Pakpak satu satunya yang tersisa. Selebihnya, dari 7 kerajaan di Simalungun, 6 rumah Bolonnya sudah dibakar,” sebutnya.

Lalu saat disinggung tentang adanya gambar salah satu gambar Rumah Bolon dalam keadaan rusak di wall miliknya, Jordi menceritakan, bahwa gambar tersebut dipetik olehnya sekitaran 3 bulan yang lalu.

“Awalnya aku ingin lihat Rumah Bolon marga kami, yang asalnya dari kampung itu. Tapi ternyata Rumah Bolon Purba Sigumonrong tidak adalagi disitu. Tapi sisa Rumah Bolon yang lain masih ada. Rumah Bolon Purba tambak,” ungkapnya.

Kemudian lanjutnya, didalam rumah itu tadinya dihuni beberapa keluarga bersaudara Purba Tambak. Tapi, entah kenapa rumah itu ditinggal. Mungkin karena tdk sanggup memperbaikinya.

“Karena bahan bahan untuk perbaikan sudah mahal dan susah ditemukan, mungkin karena itu,” pungkasnya dan saat disinggung mengapa tidak dilestarikan sebagai warisan budaya, diungkapnya, Justru itu sebenarnya yang mau forcabups upayakan.

Disambung dirinya juga, Kita tdk bisa berharap banyak dari Pemda. Justru dari pusat yang harus didorong untuk mengucurkan dana. Hanya tingga Rumah Bolon Puba Pakpak yang tersisa. Selebihnya dari 7 kerajaan di Simalungun, 6 rumah bolonnya sudah dibakar.

“Kita sedang upayakan membuat proposal ke Kemendikbud cq Dirjen Kebudayaan agar rumah Bolon itu didirikan kembali. Alasan kita sederhana. Jika tahun 1946 itu dibakar dan saat itu indonesia sudah merdeka, berarti saat itu negara abai menjaga keamanan warga dan aset asetnya. Tapi itu bisa kita lupakan dan mungkin dimaafkan. Namun kita minta agar itu dibangun kembali sebagai penghargaan untuk simalungun. Karena itu bukti bahwa di simalungun sudah ada bentuk bentuk pemerintahan sebelum Indonesia merdeka,” ujarnya saat ditanya apa langkah dari Forcabups.

Kemudian saat ditanyakan, apa kendala dari Forcabups, dikatakan olehnya, kita mempunyai kendala untuk menyusun proposal itu. Karena itu menyangkut rencana anggaran dan biaya serta spesifikasi teknis yg harus disusun sesuai aslinya. Sementara gambar maupun foto foto rumah bolon yang dibakar itu susah kita temukan. Padahal itu yg menjadi acuan untuk mengembalikan berdiri seperti aslinya. Tapi untuk sekarang kita telusuri dari rumah Bolon kerajaan Raya dulu. Ada bekasnya di Aman Raya, didepan makam Raja Raya, Rondahaim Saragih.

Ditanya bagaimana untuk kerja sama dengan para keturunan para Raja Raja untuk mengetahui bagaimana bentuk Rumah Bolon mereka, dan ada tidak rancangan dari Forcabups guna menyatukan dalam satu lahan tiap tiap banguanan Rumah Bolon, dikatakan olehnya itu rencana Forcabups kedepan dan untuk itu sedang dijalin, dan sudah ada komunikasi.

Sekedar mengingat, uniknya Rumah Bolon ternyata juga dirasakan oleh Kapolda Sumatera Utara, Irjen H Rycko Amelza Dahniel, Ketika mengunjungi Kabupaten Simalungun, Kapolda menceritakan bagaimana pengalaman dirinya saat mengunjungi Rumah Bolon.

“Saya lihat disana ada berbagai alat alat kebutuhan rumah tangga yang berusia ratusan tahun.  Ada pekakas rumah tangga. Sampai saya melihat ada alat musik berupa gendang yang disusun tujuh buah membentuk nada Do,Re,Mi, Fa, Sol, La, Si. Pertanyaan saya siapa yang menemukan nada nada itu karena itu gendang sudah berusia 200 tahun, orang Italy atau suku Simalungun?,” ungkapnya disertai kata berbahagialah kalian menjadi suku Simalungun.

Dikatakan olehnya juga, bahwa Ia sangat banyak mendapat pembelajaran saat mengunjungi Simalungun. ” Begitu Indah daerah ini,” sebutnya dan juga mengatakan, keragamaan begitu terasa disini. Kebinekaan tetap terjalin, disini berbeda beda bisa duduk damai, ternyata perbedaan itu justru begitu Indah dalam kedamaian.

“Persatuan antara masyarakat, persatuan antara dengan aparatur Negara ini agar kita saling tingkatkan.  Dengan persatuan,  dengan gotong royong persatuan tidak dapat di pecah belah. Siapapun yang ingin memecah belah persatuan yang ingin merusak kebinekaaan pasti akan hancur. Mari kita jaga kebinekaan. Kita jaga tanah air kita, kita jaga dimana kita akan pada akhirnya menutup mata,” pungkasnya.

Penulis : Hardi

TIDAK ADA KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR