Mulai Juli Kedepan, Harga Listrik Akan Naik

Ilustrasi kenaikan listrik.

JAKARTA, SUMUTMEDIA.net – Setelah naik Rp11 per kilowatt hour (kWh) pada Juni lalu, PLN kembali menaikkan tarif listrik untuk golongan nonsubsidi. Juli ini, tarif listrik naik sekitar Rp8 per kWh.

Hal itu diungkapkan Direktur Utama PT PLN (Persero) Sofyan Basir seusai menghadiri open house di kediaman pribadi Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Rini Soemarno di Jakarta, pekan lalu.

Ia mengatakan beberapa indikator penentu tarif listrik mengalami kenaikan sehingga mau tidak mau tarif listrik nonsubsidi ikut naik. “Juli ini naik sedikit, Rp8 per kWh. Naik karena harga ICP naik,” ujar Sofyan.

Menurut dia, harga minyak Indonesia (ICP) pada Mei 2016 sangat memengaruhi naiknya tarif listrik pada bulan ini. Selain itu, inflasi Mei yang sebesar 0,24 persen ikut mengerek tarif listrik.

Indikator penentu tarif listrik nonsubsidi ialah ICP, inflasi, dan kurs rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada dua bulan sebelumnya. “Inflasi ada pengaruh sedikit. Yang dominan ICP,” tuturnya.

Kendati demikian, ujarnya, jika dibandingkan dengan tarif Juli 2015, tarif bulan ini justru turun hingga 10 persen. Penurunan tarifnya mencapai 10 persen.

Menurut Sofyan, penurunan tarif listrik dari tahun lalu itu terjadi karena upaya efisiensi yang dilakukan BUMN setrum tersebut.

“Kalau dibandingkan dengan tahun lalu, turun tarif bulan ini. Itu karena efisiensi di dalam dan perubahan energi primer dari minyak diesel jadi batu bara,” tuturnya.

Di sisi lain, Dirut PT Pertamina Dwi Soetjipto menjamin tidak ada penaikan harga BBM, baik subsidi maupun nonsubsidi, hingga September 2016. Saat ini, harga premium (RON 88) di kawasan Jawa-Madura-Bali dipatok Rp6.450 per liter.

Sementara itu, pertalite (RON 90), pertamax (RON 92), dan pertamax plus (RON 95) masing masing dibanderol dengan harga Rp7.100, Rp7.550, dan Rp8.450 per liter.

“Pertamax dan pertalite enggak bisa lepas dengan harga premium. Kalau nonsubsidi dinaikkan, nanti orang pindah ke premium. Sementara itu, premium rencananya enggak akan ada kenaikan sampai September,” ujar Dwi saat halal bihalal di Kementerian Keuangan, Jakarta, kemarin.

Ia mengungkapkan pergerakan minyak berdasar basis MOPS (means of plate Singapore) diperkirakan tidak bakal naik secara drastis dalam waktu dekat. Kondisi itu bisa dijadikan pedoman yang cukup aman untuk mempertahankan harga BBM.

Sumber :metrotvnews.com

TIDAK ADA KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR