Kota Hasianku Terbelenggu

“Maafkan daku jika ku keliru, pada siapapun itu. Sebab ku ragu, dan tidak mampu mengerti apa yang dituju. Ini hanya kata kataku pada wallku, tak terkait apapun itu. Cuma oret oret asal tentang asal dengan upaya tidak asal asalan. Salam kenalan, buat handai tolan, dan ini bukan kenakalan”
——————————

Apakah film itu tetap sama disuguhkan pada mereka yang kerap disana, di lokasi penuh memori bagiku dikotaku. Ada Parlement, ada Birokrasi, ataupun Yudikasi. Memory suka maupun duka yang begitu indah.

Ada sorak sorai, ada tawa, ada luka. Yah, luka dari kegagalan sebuah pemikiran yang begitu mengagumkan jika berjalan. Faham itu apakah masih ada atau kini terbungkam rahib adanya. Lalu mengapa rancangan total diberhentikan dari patrol hebat pencapaian berjangka. Sebuah rangkai dari pembangunan ekonomi di kotaku.

Rancangan hebat yang hadirnya berdetak perang tentang tahtah, wibawa, dan kuasa. Racangan pembangunan ekonomi dikotaku yang hasilnya dapat memperlihatkan bahwa menata hak hak atas kekayaan ‘selama ini liar’ merupakan cara yang paling manjur untuk menyukseskan pengembangan ekonomi.

Masa lalu tampaknya berimbas menjadi letupan rasa kapok untuk mengikuti jalan mengejar mimpi. Keluh, kesah hanya itu dan itu saja didengkurkan. Seolah tidak tahu jalan keluar lain yang sepatutnya dilakukan.  Belenggu itu begitu kuat seakan tidak terlepaskan walau sebenarnya bukan mustahil dapat terbebas.

Bangunlah dari tidurmu kotaku, hasianku. Kamu tidak akan bisa mewujudkan mimpimu dalam keadaan tertidur. Swastanisasi, pasar bebas, investasi, mungkin itu berguna. Tetapi, apakah itu jalan keluar, atau paling sedikit tidak cukup sebagai jalan. Bukankah begitu?, sebab pedatimu kini jauh tertinggal dari para hinterlandmu dengan tahapnya menjadi kereta kencana.

Pola dasar pembangunan terdahulu, bukan sekedar kenangan yang patut dikesampingkan, ditelantarkan, atau dicampakkan begitu saja. Malapetaka jika hanya membiarkan dan hanya menanti, serta menanti, berlumkah memiliki arti..? Terombang ambing dan terdampar pada kebuntuhan.

Manusia bukanlah malaikat atau peri dari kayangan. Terlena dan terbuai, lalu rasa lapar adalah yang wajar dialami siapa saja. Apalagi tuntutan akan kehidupan dengan berbagai godaan, itu mampu mengetahui sebenarnya apa arti buaian atau peperangan yang dimengerti.

Semua memiliki porsinya sendiri sendiri, tidak ada yang perlu disalahkan. Para pelaku, para penyaksi, para pencerita, para pembual, ataupun para pengisi kisah, bisa jadi hanya khilaf dan lupa sehingga teguran, dan ketukan membangunkan agar kembali berjalan sesuai naskah yang ditulis dibiarkan begitu saja. Walau imbasnya Klimaks dari pergulatan cerita dalam kisah terbentur.

Skenario baru muncul, muncul, dan muncul bisa menjadi malapetaka , akibat Sutradara keliru paham kalau dibalik satu kisah terdapat satu cerita. Lupa akan naskah, hal ini membuat keadaan terasa begitu parah membelenggu sehingga lupa akan arah.

Naskah yang telah dituliskan. Bukan memeriksa apa yang salah dengan tingkah atau dialog, melainkan bertubi tubi menyudutkan untuk dapat di aminkan seolah kesatria dalam perperangan. Kapankah sirna masa itu, yang seolah olah secara ‘langkah’ belum siap untuk menjalankan.

Menimbulkan suasana saling meremehkan bukanlah kebanggaan. Kebanggaan pencapaian bukanlah patokan. Apa yang diharap secara singkat belum tentu tepat namun bisa menjadi jerat. Patrolmu semu, menjadi derita dan luka beratnya kaum kusam dan kumal atas sebuah tirta yang kemarin membuai jiwa.

Hayoo, bangunlah kamu. Mulailah melangkah, dan berjalanlah kembali…! Bergeraklah mengikut rancangan itu. Rancangan yang tercipta ketika kata ‘tuan menjadi tuhan’, dari kemunculan ‘raja raja kecil’, dari awal pemerintahan otonomi daerah.

Rancangan hebat yang hadirnya berdetak perang tentang tahtah, wibawa, dan kuasa. Racangan pembangunan ekonomi dikotaku yang hasilnya dapat memperlihatkan bahwa menata hak hak atas kekayaan ‘selama ini liar’ merupakan cara yang paling manjur untuk menyukseskan pengembangan ekonomi.

Ia menawarkan kepada para politisi suatu proyek yang dapat meningkatkan mensejahterakan rakyat, dan sekaligus melambungkan wibawa politik mereka, kombinasi hebat. Hasil yang hebat. Namun terhenti..! Malangnya.

Sebuah program merubah keseluruhan kekayaan rakyat menjadi modal, meningkatkan informasi tentang harta kekayaan (accumulating asset), kesadaran politik tentang perubahan mendasar dalam kehidupan rakyat serta pengembangan suatu daerah atas hidupnya daerah dulunya merupakan modal mati (dead capital).

Pendahulu memang belum berhasil, atau telah gagal. Semua karena alasan sederhana, tahta dan wibawa politik, sehingga tidak mampu menjadikan lahan yang merupakan modal mati menjadi harta kekayaan (asset) daerah yang dapat dikelola.

Karena hak hak atas semuanya tidak tercatat, maka kekayaan seperti itu tidak siap dijadikan modal. Padahal, daerah itu atau wilayah itu, bisa dikata nyawa pengembangan wilayah, pendapatan daerah, maupun peningkatan ekonomi.

Sulit memang, kalau sekaligus keselurah, setelah terbiarkan sebegitu lama dengan berbagai perebutan serta beragamnya kehidupan yang telah tercipta, tantangan mewujudkan sistem kepemilikan menjadi begitu besar. Pelaksanaa hukumnya dampaknya besar. Mereka juga pasti berjuang agar hak mereka diakui secara resmi.

Bisakah dilakukan ditengah squatter settlements.? Mungkin bisa, dilakukan dengan susunan undang undang kepemilikan (fomal property law), prosedur pengalihan (conversion process) agar harta kekayaan dapat menjadi asset,  modal berbentuk ekstra legal property system (hak kepemilikan atas aset) miliki batas batas.

Penyelesaian jangka panjang untuk memperoleh instrumen hukum (yang setingkat dengan Undang Undang) selalu terlewatkan. Lalu, apakah tidak boleh dan bisa melakukan advokasi ekstra legal.

Quo Vadis Landreform, mampukah terjawab dengan estralegal property system yang bukanlah retorika belaka. Hmmm…. UU pokok Agraria No 5 tahun 1960.  Land sharring, ntah apa lagi nih..Hadoww (marlajar again to kisah lama)

Catatan : Hardy Gunawan Daulay

TIDAK ADA KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR