Pemerintah Menstabilkan Harga Bahan Pangan, APPSI : Itu Hanya Wacana

0
15

JAKARTA, SUMUTMEDIA.net – Langkah pemerintah untuk menstabilkan harga bahan pangan, dinilai sejumlah kalangan hanya isapan jempol. Wakil Ketua Umum Asosiasi Pedagang Pasar Seluruh Indonesia (APPSI) Ngadiran mengungkapkan, langkah tersebut tak digarap dengan serius. Pasalnya kala pedagang telah mencapai konsensus membantu pemerintah menstabilkan harga, barang yang ajan mereka jual justru belum tersedia.

“Kemarin Menteri Pertanian Amran Sulaiman berinisiatif memutus rantai penjualan beras, dengan mensubsidi pembelian alat dan mesin pertanian. Harapannya supaya harga beras di pasaran bisa turun,” ujarnya.

Meski disebutnya “disubsidi”, lanjutnya, jangan sampai melalui jalan dan proses panjang. “Kalau jalannya panjang, nanti ujungnya biaya lagi,” kritik Ngadiran.

Selain itu, ia menilai instruksi pemerintah untuk menjual bahan pokok dengan harga miring, justru tak sesuai rencana. “Kami diminta jual daging ayam Rp 30.000 kilogram. Namun saat operasi pasar murah digelar, ayam dijual dengan harga Rp 29.000. Ini membuat ayam yang dijual pedagang jadi tak laku,” keluhnya.

Saat diundang ke Kementerian Pertanian, ia menceritakan, didaulat untuk menjual ayam dengan harga yang telah disepakati. Namun harga tersebut terus berubah sehingga cenderung membuat rugi para pedagang.

“Saat diundang rapat berkali-kali, kami diberi ayam seharga Rp 30.000, kami jual dengan harga Rp 32.000. Namun keesokan harinya, harga berubah lagi jadi Rp 29.000, ini berarti ada selisih harga yang tidak adil. Padahal kalau ditemukan barang dengan kualitas jelek, busuk, pemerintah diam. Kita yang tanggung,” terangnya.

Ia mengaku belum memperoleh solusi terbaik untuk mengatasi limbungnya harga bahan pokok di pasar. “Kalau mau buat kebijakan, baiknya tetap konsisten dan dibarengi upaya yang baik, supaya pedagang senang, pembeli senang, harga juga stabil,” ujarnya.

Kebijakan Jokowi menurunkan harga ditanggapi dingin Haji Syamsudin, pedagang daging sapi di Pasar Gondangdia, Jakarta Pusat. “Kalau pemerintah mau tetapkan harga, tolong pikirkan juga berapa¬† kerugian yang ditanggung pedagang. Semisal harga daging sapi yang mulanya Rp 120.000 diturunkan jadi Rp 80.000. Itu berarti ada selisih harga sekitar Rp Rp 30-40.000. Siapa yang akan tanggung? Jangan mematikan usaha pedagang dan peternak, lah,” tutupnya. (Purnama Ayu)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here