Warga Desa Lingga Tetap Menolak Desanya Dijadikan Relokasi Mandiri

0
21

KARO, SUMUTMEDIA.net – Pemerintah Kabupaten Karo saat ini dihadapi dengan begitu banyak permasalahan mengenai penanganan bencana alam erupsi gunung Sinabung. Persoalan datang bertubi-tubi, belum rampung masalah pembangunan di relokasi Siosar dan kepastian pengungsi 9 Desa yang masih tinggal di beberapa titik posko pengungsian. Kini datang lagi masalah baru yang membuat pusing pemda.

Pasalnya, wacana relokasi mandiri tahap II bagi 1683 KK warga Desa Kutatonggal, Gamber, Gurukinayan dan Desa Berastepu yang akan ditempatkan di Desa Lingga Kecamatan Simpang Empat. Ditolak mentah-mentah oleh ribuan warga Desa Lingga, Selasa (7/6) yang berkumpul di Jambur (Losd) desa Lingga.

“Intinya, kami menolak adanya lokasi relokasi warga pengungsi di Desa ini. Sudah cukup 150 KK pengungsi korban Sinabung yang kami terima, jadi jangan ditambah lagi. Kami tak ingin terjadi konflik di belakang hari,” ujar Kepala Desa Lingga Servis Ginting diamini warganya di pertemuan antar warga dengan Pemerintah Daerah.

Keberatan warga bukan tidak berdasar, selain janggal adanya desa didalam desa. Warga Desa Lingga belum pernah disosialisasikan tentang akan adanya lokasi relokasi di desanya. Pemerintah daerah tidak pernah melakukan pendekatan. Warga menduga, penempatan relokasi mandiri di desanya sarat dengan kepentingan oknum-oknum tertentu yang mengintervensi relokasi mandiri.

Menurut warga, Desa Lingga merupakan desa budaya dan warisan leluhur untuk dijaga dan itu diakui dunia. Tatanan jangan dirusak dan diperkeruh dengan adanya relokasi mandiri. Selain itu, Desa Lingga juga merupakan desa sejarah kerajaan.

“Bukannya kami menolak dan benci pengungsi. Namun harus dipertimbangkan dan dikoordinasikan dengan warga mengenai dampaknya dikemudian hari. Masa mereka akan dimasukkan tapi tidak permisi, ada apa ini?,” ketusnya diamini Feri Sinulingga (45) di barengi tepuk tangan ribuan warga Lingga.

Sorakan warga pecah saat Kepala BPBD Karo dr. Saberina Tarigan MARS dan Kepala Pelaksana (Kalak) BPBD Matius Sembiring memberikan pencerahan dan membacakan juknis relokasi mandiri. Sosialisasi relokasi mandiri terhadap warga Desa Lingga seperti bermain catur. Pemerintah Daerah tak berkutik sebelum permainan catur dimulai. Langkah pion catur belum dimulai langsung di “Skak Mat” oleh warga Desa Lingga.

Sementara, Kapolres Karo AKBP Pangasian Siti, Sik dan Dandim 0205/TK Letkol Inf Agustatius Sitepu, S.Sos yang hadir dalam pertemuan tersebut dalam kesempatannya berbicara mengharapkan agar warga Desa Lingga mau menerima saudara-saudara kita yang terkena bencana. “Karena bagaimanapun mereka adalah bagian dari kita. Jadi tolong dari hati kita masing-masing sebagai manusia pasti mempunyai rasa kemanusiaan,” harap Kapolres diamini Dandim. Namun, warga tetap bersikeras menolak adanya lokasi relokasi mandiri di desanya. Sehingga pertemuan diakhiri karena belum ada titik temu antara Pemda dan masyarakat Desa Lingga.

Sehingga diperkirakan 7.000 pengungsi korban Sinabung berasal dari empat Desa yakni Desa Kutatonggal, Gurki, Gamber dan Berastepu bakal terkatung-katung karena belum tersedianya lahan relokasi.

Pantauan wartawan, pertemuan antara pemerintah daerah terdiri dari Bupati Karo Terkelin Brahmana, SH dan wakilnya Cory Sebayang dan SKPD terkait serta Muspida Dandim 0205/TK, Kapolres Karo dengan warga Desa Lingga berakhir dengan tangan kosong (nihil). Dalam pertemuan ini, Polres Karo menurunkan 50 personil untuk berjaga-jaga (pengamanan) untuk menghindari keributan.

Informasi yang dihimpun di sekitar Jambur Desa Lingga tempat pertemuan. Warga empat desa korban (terdampak) erupsi Sinabung sudah diarahkan oknum-oknum yang berkepentingan agar memilih lokasi relokasinya di Desa Lingga. Disebut-sebut, lahan yang telah disediakan itu dibeli oknum pengembang yang notabene PNS Pemkab Karo dan berkonspirasi dengan Sekdakab Karo Saberina Tarigan serta salah seorang anggota DPRD Karo Thomas Jeverson Ginting.

“Dengar-dengar mereka bertiga sudah menanam saham disitu untuk membeli tanah warga. Agar lokasi relokasi pengungsi dibuat disitu,” ujar salah seorang warga yang tak ingin namanya disebut. (Charles Ginting)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here