Polentyno Girsang : “Ada Mafia Hukum Atas Kasus Yang Menimpa Saya”

0
34

SIANTAR, sumutmedia.net – Mantan direktur rumah sakit Horas Insani, Dr.Med.dr.Polentyno Girsang SpB.KBD.FinaCs.FICS datang menghadiri sidang PK (peninjauan kembali) di Pengadilan Negeri Siantar, Jumat (12/2).

Dalam sidang yang digelar Polentyno Girsang meminta peninjauan kembali atas putusan Mahkamah Agung (MA) Republik Indonesia no 1543 K/PID/2011 tertanggal 8 juli 2014, yang telah memvonis dirinya hukuman 5 bulan 2 minggu, terhitung mei hingga oktober 2015 atas tuduhan penggelapan dana rumah sakit horas insani.

Menurut Polentyno, Petrus Yusuf yang merupakan lawan hukumnya adalah bukan Direktur Rumah Sakit yang sah, karena tidak melakukan registrasi yang sah sesuai peraturan hukum dan peraturan Rumah Sakit Horas Insani.

“Dituduh saya penggelapan karena saya bukan direktur Horas Insani yang sah, padahal dia (Petrus Yusuf) yang bukan direktur yang sah.” Ungkap nya.

Polentyno juga mengatakan bahwa Petrus lah sebenarnya yang melakukan tindak pidana kejahatan karena melakukan pemalsuan dokumen, memberlakukan akta yang tidak benar dan memalsukan TDP serta SITU palsu.

“Kemarin saya telah laporkan Petrus ke Mahkamah Agung karena dia telah melakukan pemalsuan TDP dan SITU palsu tetapi oleh Mahkamah Agung dibuat pula dia bebas murni,” Ujar Polentyno.

Keberatan atas keputusan Mahkamah Agung Republik Indonesia berdasarkan bukti dan temuan dilapangan, Polentyno Girsang menilai ada permainan hukum yang diterapkan dalam kasus yang menimpa dirinya.

“Ada mafia hukum, ini jelas mafia hukum, sebagaimana saya tuliskan dibuku saya, dan inilah yang terjadi di Pematangsiantar, itu true story,” katanya.

Dia juga menuding selama Petrus menjabat sebagai Direktur Rumah Sakit Horas Insani sudah ada 60 perkara pidana dan perdata, dan dia mengatakan Rumah Sakit Horas Insani adalah mesin penarikan uang (ATM) oleh oknum-oknum penegak hukum.

“Ada 60 perkara pidana maupun perdata selama si Petrus berkuasa disana, saya juga menduga akibat pengeluaran dana-dana PT Horas Insani yang tidak bisa dibuktikan penggunaannya itu untuk membayar kesana kemari, sehingga itu Rumah Sakit Horas Insani jadi ATM dari para oknum-oknum penegak hukum,” katanya.

Walaupun sudah dihukum penjara selama 5 bulan 2 minggu ditahun 2015 yang lalu, Polentyno Girsang tetap dan masih memperjuangkan kelegalitas hukum. Hal ini ditempuh untuk mengganti kerugian yang diterima pasca ditetapkan sebagai terpidana senilai Rp 500 milyar dan pemulihan nama baik sebagai dokter yang profesional. (Kevin/Hendrik/Alex)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here