IPW : Teror Penembakan Sepanjang 2015, Jawa Barat Terbanyak

0
93

JAKARTA, Sumutmedia.net – Teror penembakan yang dilakukan oleh orang tak dikenal di sepanjang tahun 2015 di Indonesia, ternyata masih marak. Hal ini menunjukkan bahwa peredaran senjata ilegal masih marak di masyarakat dan pengawasan peredarannya cukup lemah.

Demikian dipaparkan Ketua Presidium Indonesia Police Watch (IPW) Neta S Pane kepada wartawan terkait kasus teror penembakan di sepanjang 2015.

Berdasarkan catatan IPW, sepanjang 2015 terjadi sebanyak 29 kasus yang menewaskan 11 orang dan 12 luka. Sedangkan di 2014 hanya terjadi 18 kasus penembakan.

Dia menjelaskan, sebagian besar sasaran penembakan adalah manusia, mobil, rumah, dan perkantoran. “Sebanyak 15 kasus penembakan terjadi di jalanan, enam di rumah, dan sisanya di berbagai tempat,” papar Neta Pane kepada wartawan di Jakarta, Rabu (16/12/2015).

Dia mengatakan total sasaran penembakan ada sebanyak 32, yang 27 di antaranya adalah manusia. Sisanya yakni, mobil, kantor, dan lainnya. Hanya sebagian kecil dari sasaran itu, yang luput dari terjangan peluru pelaku.

“Ironisnya, enam di antara korban adalah ibu rumah tangga, tiga satpam, dua anggota TNI, bocah, dan lain-lain,” imbuhnya.

Teror Pertama

Neta Pane menjelaskan, teror penembakan pertama sekali terjadi pada 1 Januari 2015. Korbannya adalah Hasnia (34), seorang ibu rumah tangga tertembak di bagian paha kanannya saat sedang tidur di rumahnya di Makassar.

“Sedangkan kasus terakhir terjadi pada 13 Desember 2015. Korbannya juga seorang ibu rumah tangga, AIsah (40), tewas akibat kepalanya ditembak pengendara bermotor di Kalideres, Jakarta Barat,” ungkap Neta Pane.

Namun, sambung dia, sebagian besar teror penembakan itu hingga saat ini belum berhasil diungkap Polri.

Jawa Barat Terbanyak

Sementara untuk kasus teror penembakan terbanyak di 2015, terjadi di Jawa Barat yakni sebanyak 9 kasus, DKI Jakarta 8 kasus, Sulawesi Selatan 6 kasus, Papua 2 kasus, dan Sulawesi Tengah, Sulawesi Utara, Jawa Tengah, serta Sumatera Utara hanya 1 kasus.

“Yang menarik di daerah rawan konflik seperti Aceh dan Maluku, justru tahun ini bebas dari aksi teror penembakan gelap,” jelas Neta Pane.

Melihat masih maraknya aksi penembakan gelap ini, dia berharap, ke depannya Polri perlu makin agresif melakukan operasi pembersihan terhadap senjata ilegal.

Selain itu, Polri perlu mengawasi secara ketat penggunaan air soft gun dan senapan angin. “Sebab di tahun 2015, terlihat banyaknya penggunaan kedua senjata itu dilakukan pelaku untuk menembak korbannya,” pungkas Neta Pane. (Edo Panjaitan)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here