Debat Publik Cabup-Cawabup Simalungun 2015, Debat Kandidat Bupati Simalungun Menuai Kritik

0
109

SIMALUNGUN – Debat publik pasangan calon (paslon) Bupati-Wakil Bupati Simalungun yang dihelat di Hotel Patrajasa, Selasa (17/11) panen kritik. Beberapa pihak menilai, agenda kampanye tersebut tak berjalan sesuai ekspektasi mayoritas orang. Selain alokasi waktu yang terbatas, isu yang didedah juga relatif belum cukup komprehensif.

“Dengan waktu yang sangat minim, hanya satu jam, tujuan debat publik untuk memaparkan visi misi paslon dikhawatirkan tak tercapai. Padahal esensi dari debat ini adalah supaya publik mampu mengidentifikasi kualitas calon pemimpin mereka,” ungkap Reno Permana, pekerja media.

Menurutnya, KPUD Simalungun selaku penyelenggara, bisa memaksimalkan acara debat publik ini dengan memperpanjang waktu pelaksanaan. “Beri kesempatan paslon untuk memaparkan program-program konkrit, sebagai salah satu daya tawar mereka di depan masyarakat,” ujarnya.

Andreas Sihombing, warga Hatonduhan juga menuturkan hal senada. “Saya kurang puas dengan pelaksanaan debat tadi. Waktunya singkat, masing-masing paslon jadi tak maksimal menyampaikan program-program mereka. Padahal publik perlu mengetahui secara gamblang, mau dibawa kemana Simalungun dalam lima tahun ke depan,” urainya.

Ia juga mengritik isu-isu yang diketengahkan panelis ke acara debat. “Yang saya lihat tadi, isu yang dibedah hanya tiga yakni kesiapan paslon menyongsong Masyarakat Ekonomi Asean (MEA), strategi mencapai good governance, dan program penyejahteraan masyarakat. Sementara itu, isu strategis seperti masalah pariwisata, lingkungan, dan pertanian tak disentuh sama sekali,” ujarnya.

Selain teknis pelaksanaan debat, Andreas juga menilai banyak paslon yang tak terlalu menguasai visi-misi sekaligus isu pembangunan yang mereka tawarkan. “Kebanyakan jawaban cenderung normatif, subtil, dan terkesan hambar,” ungkapnya. Yang lebih parah, lanjutnya, ada paslon yang ketika berargumentasi, tak menyasar substansi pertanyaan.

Kekurangan lain dalam debat tersebut adalah tidak adanya fasilitas untuk pemilih yang menderita tuna rungu. “Jika kita saksikan debat-debat lain, ada kesadaran penyelenggara untuk memfasilitasi pemirsa televisi yang tuna rungu. Caranya dengan menyisipkan satu penerjemah atau ahli bahasa isyarat,” ujar Nadya S., warga Parapat. Menurut ibu dua anak ini, pemilih yang memiliki keterbatasan panca indera harus diperhatikan hak-haknya.

Debat itu sendiri diikuti lima paslon yakni Tumpak Siregar SH/Irwansyah Damanik SE, Evra Sassky Damanik SSos/Sugito, Hj Nuriaty Damanik SH/Posman Simarmata, DR JR Saragih SH MM/Ir Amran Sinaga MSi, dan Lindung Gurning/Soleh Saragih. Acara ini disiarkan langsung oleh stasiun televisi I-News kemarin pukul 14.00 hingga 15.00 WIB. (Purnama Ayu)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here